Selasa, 01 Juni 2010

aku menangis...wahai saudaraku....

Tulisan ini di copy dari : http://bahagialah.wordpress.com/2009/01/19/tafsir-apa-yang-engkau-katakan-lagi-bukankah-fakta-telah-bicara//home/user/Desktop/palestinaku9.jpg
/home/user/Desktop/palestinaku111.jpg

/home/user/Desktop/palestinaku13.jpg

/home/user/Desktop/palestinaku15.jpg

/home/user/Desktop/palestinaku17a.jpg

/home/user/Desktop/palestinaku17.jpg




































/home/user/Desktop/palestinaku181.jpg



TAFSIR APA YANG ENGKAU KATAKAN LAGI, BUKANKAH FAKTA TELAH BICARA

Ditulis oleh lexdoank di/pada Januari 19, 2009

Semua orang boleh menafsirkan apa, yang pasti fakta telah membuktikan bahwa Israel adalah pembantai warga sipil yang tak berdosa. Membunuh anak-anak yang sedang sekolah. Memberondong ibu dan anak di pelukannya dengan peluru. Menghancurkan sekolah-sekolah PBB. Membombardir rumah sakit.

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara bahwa Israel memang benar-benar manusia paling kejam di dunia. Bayangkan saja, jasad anak-anak yang sudah di bombardirnya, di berikannya kepada anjing-anjing buat santapan. Tentara-tentara Zionis itu melepaskan beberapa ekor anjing yang langsung mengoyak-ngoyak jasad Shahd nama bocah yang sudah tak bernyawa itu.

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara bahwa Israel telah menggunakan senjata yang dilarang oleh PBB, seperti bom fosfor putih, yang jika kena tubuh sedikit saja, maka hancurlah tulang-tulang didalamnya. Dan asapnya bisa membuat manusia sakit pernafasan akut. Inilah bukti bahwa Israel lah yang menggunakan senjata terlarang.

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara, para pejuang Palestina seperti gerakan kemerdekaan Palestina HAMAS dan Jihad Islami serta pejuang-pejuang Palestina lain nya adalah melawan dan berjuang menegakkan kemerdekaaan Palestina sendiri. Dan mereka adalah para pejuang yang menuntut hak mereka, yakni hak hidup merdeka. Sama dengan rakyat nusantara ini dulu berjuang melawan Belanda. Lalu salahkah mereka?

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara, bahwa siapa saja orang yang benar-benar ikhlas menolong saudaranya dan siapa yang bermuka dua. Karena perang ini adalah “Perang Pembeda” kata Ismail Haniya sang Pejuang Revolusioner itu. Pembeda yang haq dengan yang bathil. Pembeda si Munafik dengan si Mukhlisin.

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara, bahwa Israel adalah anak emas Amerika. Israel sengaja membuat perang ini sebagai pesan kepada Barack Obama presiden Amerika terpilih yang akan dilantik besok 20 januari 2009, bahwa ia adalah anak emas yang musti di perhatikan dan di akomodasi. Maka di tengah optimisme dunia atas terpilihnya Barack Obama dan perubahan itu mungkin ibarat punguk merindu bulan purnama.

Semua orang boleh menafsir apa, yang pasti fakta telah bicara, Israel adalah Penjajah sejati dan Teroris yang sebenar-benarnya teroris. Meneror seluruh warga sipil dengan bom, tank, jet tempur dan helicopter buatan Amerikanya. Mencaplok tanah milik anak bangsa Palestina. Mem-buldozer rumah-rumah rakyat Palestina lalu mereka dirikan perumahan elit dan villa-villa kemudian di batas dengan tembok pemisah yang paling rasial di dunia melebihi rasialnya “tembok Berlin” (memisahkan Jerman barat dan timur) yang telah runtuh.

Lalu salahkah rakyat palestina berjuang mempertahankan tanahnya sendiri?

Salahkah para pejuang kemerdekaan Palestina seperti HAMAS , Jihad Islami dan pejuang lainnya di Palestina itu melawan penjajah Israel? Kalau jika mereka salah, berarti pejuang-pejuang kita dulu melawan penjajah Belanda juga salah.



AK84169549

Entri ini dituliskan pada Januari 19, 2009 pada 9:14 am dan disimpan dalam palestinaku. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

Kamis, 27 Mei 2010

Perbankan syariah : "Solusi dan Pilihan Tepat Dimasa kini dan Masa Mendatang"

Perbankan syariah : "Solusi dan Pilihan Tepat Dimasa kini dan Masa Mendatang"

Edisi : menjadikan masyarakat berjiwa bank syariah



“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)


Ada sedikit cerita dari seorang teman, setelah membaca majalah yang berkaitan dengan bank syari’ah, Dia mengaplikasikanya dengan menabung di bank syariah sebesar 100.000 rupiah. Dia akan membuktikan, benarkah apa yang dibaca dalam majalah yang Ia baca. Saldo yang ada tidak ditambah dan tidak pula dikurangi hingga terhitung selama 3 bulan. Setelah dilihat dalam buku rekening, saldo yang ada bertambah sebesar 103.000 rupiah. Dia berkesimpulan, bahwa bank syariah tidak akan pernah merugikan kepada semua nasabah, sekalipun saldo yang dipunyai terlampau sedikit, semakin besar jumlah yang diinvestasikan (menabung), maka keuntungan dari sistem bagi hasil semakin besar. Dari cerita temanku ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa bank syariah dapat digunakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa merugikan siapapun. Prinsip bagi hasil adalah prinsip saling menguntungkan bukan seperti sistem suku bunga yang cenderung kapitalis, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin ketinggalan.
Nama syariah merupakan nama yang berasal dari bahasa arab dengan makna bahwa sistem yang digunakan berprinsip pada aturan- aturan islam. Pada dasarnya sistem syariah diterapkan di Indonesia, karena mayoritas penduduk Negara ini adalah muslim. Dengan adanya bank syariah mobilitas sistem perbankan di Indonesia sejalan dengan budaya masyarakat Indonesia. Apalagi setelah dikeluarkanya fatwa majelis ulama Indonesia tahun 2003 dan pendapat ulama dunia yang menfatwakan kharam atas suku bunga, maka bank syariah sebagai tempat singgah yang tepat dan aman bagi warga Indonesia.
Sejarah telah mencatat bahwa bank syariah tetap stabil dalam keadaan ekonomi yang tidak stabil. Kondisi ini dapat kita lihat pada tahun 1997 saat keadaan Indonesia mengalami krisis, pada November 1997 telah ada 16 bank bermasalah yang dicabut izin usahanya dan dilikwidasi dan disusul akhir September 1998 ada 55 bank bermasalah semuanya bank konvensional terdiri dari 10 bank termasuk katagori bank beku operasi (BBO), 5 bank termasuk katagori bank yang dikuasai Pemerintah (BTO), dan 40 bank termasuk katagori bank dibawah pengawasan BPPN. Sedangkan untuk perbankan syariah dapat kita buktikan,ditengah- tengah krisis ekonomi 1997 tersebut tidak ada satu bank syariah yang terkena dampaknya, malahan laporan keuangan salah satu bank syariah pada saat itu, menunjukan kinerja terbaiknya dengan peningkatan laba bersih mencapai 134 %, peningkatan asset sebesar 14 % dari 515,5 milyar rupiah pada tahun 1996 menjadi 588,5 milyar rupiah pada tahun 1997, dan semakin mantapnya kepercayaan masyarakat yang dapat dilihat dari peningkatan simpanan dana masyarakat sebesar 11 %.
(A, karnaen, 2008). Gubernur Bank Indonesia bahkan memperkuatkanya pada pidato di Sidang Tahunan Dewan Gubernur IDB ke-24 tanggal 3 November 1999 mengatakan antara lain : " We in the central bank as well as in other public authorities have a strong believe that banks and other financial institutions operating on the basis of shari'ah principles can cope with various problems better than conventional financial institutions. And although a thorough study is still to be conducted, preliminary indicators have shown that shari'ah banks are more resilient in the time of financial and economic crises like the one we in Indonesia have gone through, particulary because the risk are share among parties involved ". Apapun keadaan ekonomi dimassa sekarang maupun mendatang dimana kestabilan ekonomi tidak dapat ditentukan, maka bank syariah adalah solusi dan pilihan yang sangat tepat bagi perkembangan ekonomi negara ini.
Perbankan syariah sesuai dengan kondisi sosial- budaya masyarakat Indonesia. Sosial - budaya masyarakat yang kental dengan etika, kebersamaan serta persaudaraan sejalan dengan sistem perbankan syari’ah yaitu sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil memberikan manfaat adanya kerjasama saling menguntungkan bagi masyarakat dan pihak Bank, menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, Investasi yang beretika, mengedepankan nilai- nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Karakteristik inilah yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia.
Kehebatan sistem yang dimiliki oleh bank syariah, memberikan kemaslahatan yang besar bagi masyarakat dan berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional. Oleh karena itu, Bank Indonesia akan mewujudkan perbankan syari’ah yang modern dan bersifat Universal artinya tidak hanya ummat muslim saja, tetapi sistem yang sangat hebat ini sangat cocok diterapkan kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Bahkan Visi di tahun 2010 ini adalah bank syariah Indonesia sebagai industri perbankan syari’ah yang terkemuka di ASEAN.
Sekarang, bagaimana agar masyarakat indonesia mengetahui bahwa bank syariah merupakan solusi dan pilihan tepat bagi masyarakat, sehingga banyak masyarakat yang menggunakan bank syariah dalam bertransaksi. Tidak boleh ada kata tidak, bahwa untuk melakukan hal ini, pihak internal bank dan pemerintah harus memutar otak serta bekerja keras secara bersama- sama. Konsep jitu yang dapat dilaksanakan adalah dengan menanamkan jiwa perbankan syariah kedalam jiwa peserta didik dan masyarakat umum. Pendidikan tentang perbankan syari’ah harus diajarkan sejak dini. Pendidikan mengenai perbankan syari’ah dapat dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan serta mempraktekanya berupa bertransaksi Di Bank syariah. Dapat juga berupa pemberian beasiswa melalui bank syariah sekaligus memberikan arahan kepada siswa, secara otomatis siswa akan terlatih dalam menggunakan dan bertransaksi dengan bank syariah. Kebiasaan, terlatihnya siswa dalam transaksi melalui bank syariah akan tertanam pada jiwa peserta didik dan kelak mereka akan mengaplikasikan dan mengembangkannya di dalam masyarakat.
Penanaman jiwa bank syariah kepada masyarakat dilakukan dengan sosialisasi secara langsung ataupun tidak langsung. Sosialisasi yang paling efektif adalah melibatkan masyarakat secara langsung untuk bertransaksi di Bank Syariah. Bagaimana caranya?. Adanya kerjasama antara pihak bank dengan masyarakat untuk memulai dan mengembangkan usaha di semua sektor baik skala mikro maupun makro kepada semua lapisan masyarakat secara individu maupun komunitas. Pembimbingan dan Pembianaan melalui kerjasama oleh pihak Bank, secara langsung akan melibatkan masyarakat untuk bertransaksi dengan bank syariah. Semakin besar jumlah binaan oleh pihak bank dalam mengelola usaha, maka semakin banyak masyarakat yang akan bertransaksi dengan bank syariah. Dengan melalui aplikasi sistem perbankan syari’ah secara langsung kepada semua lapisan masyarakat, maka masyarakat tidak hanya sekedar mengetahui bank Syariah tetapi telah tertanam dalam jiwa masyarakat serta menggunakan bank syari’ah dalam bertransaksi yang akhirnya masyarakat akan berkesimpulan bahwa bank syar’ah merupakan solusi dan pilihan tepat dimasa kini dan masa mendatang.

“Tetap Semangat dan Hidup Bahagia Penuh Syari’ah”.

salam sukses
mukhakikin

Rabu, 26 Mei 2010

Mari berfikir bersama- sama



Semakin berkembangnya berbagai aspek kehidupan dunia, baik ekonomi, politik, sosial budaya, bahkan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kita semakin terbelenggu bermain-bermain dibawah hawa nafsu dan lupa menghitung-menghitung diri dalam ketaatan atas nikmat-nikmat yang diwujudkan Allah ke dalam hati kita.

Kesemua itu diakibatkan oleh semakin pekatnya hati karena kesibukan kita berupaya meraih keinginan diri, tujuan tertentu yang berlebihan serta kurang istiqamahnya dalam beraktifitas diberbagai aspek kehidupan sehingga cenderung niengabaikan dan kurang yakin dengan kekuatan, keagungan dan kebesaran Allah SWT dalam diri kita.

Dalam hal ini ada satu ibadah yang sangat penting yang sering kita lupakan atau sering kita lakukan tetapi hasilnya seringkali diabaikan dan tidak kita benihkan sebagai suatu kesadaran dalam hati dan fikiran untuk kemudian kita tumbuhkan menj adi pendewasaan kerohanian kita. Bahkan terkadang seringkali kita merasa tidak yakin dan sangat berat untuk mengamalkan dan melaksanakan hasil tersebut sebagai usaha peningkatan kesadaran dan pensucian jiwa, yaitu ibadah bertafakur.

Tafakur adalah perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Hasil tafakur kita merupakan penyaksian terhadap kebesaran-Nya yang diperlihatkan kepada jiwa dan kerohanian kita secara zhahir dan batin untuk kemudian kita aktualisasikan dan amalkan sebagai suatu pengabdian suci kepada Allah SWT. Dapat kita katakana bahwa kebaikan dunia dan agama tergantung pada kesempurnaan tafakkur. Ali bin Abi Thalib ra. telah berkata, “Tidak ada ibadah sepenting tafakur“. Orang bijak mengatakan, “Bertafakur adalah pelita kalbu. Bila ia pergi tiada lagi cahaya yang meneranginya“.

Lingkup tafakur amatlah luas. Sedangkan yang paling mulia adalah bertafakur atas keajaiban-keajaiban semesta alam, langit dan bumi beserta isinya. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan di bumi ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin dan juga pada dirinni sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan“. (QS. Adz-Dzariyaat: [51]: 20-21).

Diri kita sendiri sesungguhnya termasuk ciptaan-Nya yang paling mengagumkan dan paling dekat untuk ditafakkuri. Begitu banyak fungsi-fungsi organ tubuh kita yang sangat menakjubkan hati dan flkiran kita, yang kesemuanya itu menunjukkan tanda kebesaran Allah SWT, dan kita diperintah oleh-Nya untuk memperhatikan itu.

Termasuk merenungkan kelalaian kita dalam beribadah kepada Allah SWT serta keberanian kita dalam menantang murka-Nya dengan memasuki pintu-pintu maksiat yang dilarang-Nya akan mengingatkan dan memperdalam kesadaran kita terhadap firman Allah SWT, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56). Dan Allah SWT berfirman, “Hai manusia apakah yang memperdayakanmu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang MahaPemurah“. (QS. Al-Inflthar [82]: 6).

Bertafakur seperti ini akan menambah rasa takut kita pada Allah serta mendorong kita untuk mempersalahkan dan mengecam diri kita disamping menjauhi kelalaian dan menambah kesungguhan.

Menafakuri karunia-karunia dan kemurahan-kemurahan-Nya yang telah dilimpahkan kepada manusia adalah bagian dari tafakkur yang dapat memperkokoh amaliah-amaliah tafakur sebelumnya. Bertafakur atas nikmat-nikmat-Nya, akan menumbuhkan kesadaran bahwa betapa nikmat tersebut tidak dapat dihitung, sebagai firma-Nya “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari nikmat Allah” (QS. Ibrahim: 34). Kesadaran seperti ini akan memunculkan kecintaan kepada Allah S WT sebagai Pemberi nikmat dan kecintaan terhadap sesama dengan saling memberi dan mencukupi. Karena sesungguhnya nikmat itu adalah pemberian, lantas mengapa kita harus menumpuk-numpuknya dan tidak memberi kepada orang lain.

Bertafakkur dapat dengan mudah kita lakukan dalam setiap keadaan, ruang dan tempat serta waktu. Meski di dalam situasi sibuk sekalipun dalam berbagai aspek kehidupan dan di setiap gerak-gerik aktifitas, tafakur harus senantiasamenyertai. Bahkan ketika kita dihadapkan dengan situasi sulit, sangat baik kita bertafakur sejenak sebelum menentukan keputusan, bukankah Rasulullah Saw mengajarkan kita untuk melakukan shalat istikharah.

Bertafakur dapat menjadikan diri kita menjadi pribadi yang selalu ingat dan ingin dekat dengan Allah, dan menjauhkan diri untuk melakukan perbuatan yang dapat merusak dan menzhalimi diri. Akan menjadikan pribadi-pribadi yang arif dan bijak, karena aktifitas bertafakkur akan selalu menemukan hikmah yang sangat bernilai tinggi dibalik pristiwa dan kejadian. Akan menjadikan pribadi-pribadi yang senantiasa menghiasi jiwa, watak dan tingkah lakunya dengan yang indah-indah dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya Saw.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 43 Th. XXII - 24 Oktober 2008 : http://mimbarjumat.com/archives/175

Program pemerintah sia- sia

Ujian Nasional untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajad telah berlangsung dan menyusul kemudian ujian nasional untuk siswa sekolah menengah pertama (SMP) MTs/SMPLB, kemudian tingkat sekolah dasar. Beberapa media cetak maupun elektronik telah menginformasikan bahwa terjadi pelanggaran/ kecurangan pada saat ujian nasional berlangsung.
Dinas Pendidikan Nasional telah menetapkan bahwa pada tahun ajaran sekarang standar nilai untuk mencapai kelulusan dalam ujian nasional memiliki nilai rata - rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Tentunya pemerintah dalam menetapkan hal ini tidaklah main- main. Betapa besar keinginan pemerintah yang dikuatkan dengan anggaran pendidikan sebesar 20 persen untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara berkala demi kemajuan pembangunan Di Indonesia.
Akan tetapi, nampaknya masyarakat terutama orang tua dari siswa, sebagian tidak mau diajak kompromi tentang hal ini. Tidak sedikit, sebagian warga yang menyetujui diberlakukanya standar nilai kelulusan. Kemungkinan alasan terkuat adalah takut kalau- kalau siswanya tidak lulus ujian nasional.

Belas Kasih Seorang Guru
Usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Di Indonesia, dilain sisi, nampaknya juga tidak disetujui oleh kalangan pendidik itu sendiri. perkataan yang sering dilontarkan oleh sebagian guru adalah “ Kasian kalau anak didiknya tidak lulus dalam ujian nasional”. Sepertinya kalangan pendidik Di Indonesia masih mempunyai rasa belas kasih kepada peserta didiknya. Akan tetapi belas kasih yang mereka berikan kepada peserta didik tidak tepat pada musimnya.
Dapat kita lihat dari berbagai media informasi, bahwa pada saat berlangsungnya ujian nasional, seorang guru memberikan jawaban mata pelajaran tertentu yang diujiankan kepada anak didik via SMS atau menggunakan cara lain, yang kemudian disebarkan ke siswa lainya. Selain itu dimungkinkan ada indikasi kecurangan lain yang tidak tampak oleh pengawas. Bahkan pengawas pun ikut-ikutan menjadi seseorang yang mempunyai belas kasih kepada siswa pada saat ujian berlangsung. Sungguh hal yang sangat luar biasa sekali, kerjasama antara pihak pendidik, peserta didik (peserta ujian) maupun pengawas dalam rangka menggagalkan program pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sia- Sia
Kebijakan pemerintah terkait dengan hal ini, bukannya bermaksud untuk menekan angka pengangguran Di Indonesia. Yaitu, dengan menetapkan standar nilai kelulusan yang berakibat berkurangnya jumlah lulusan siswa sekolah menengah atas (SMA) atau sederajad dikarenakan banyak siswa yang tidak lulus. Akan tetapi kebijakan yang dibuat terkait dengan penetapan standar nilai kelulusan, salah satunya adalah sebagai stimulus bagi para pendidik atau peserta didik untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar- mengajar. Khusus bagi peserta didik diharapkan agar lebih giat dalam hal belajar baik secara mandiri dirumah maupun di dalam kelas pada saat sekolah, guna mempersiapkan tantangan dari pemerintah ini. Dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar oleh peserta didik dan pendidik, maka secara otomatis peluang kemajuan kualitas pendidikan di Indonesia akan meningkat yang diharapkan akan berimbas terhadap kemajuan pembangunan baik secara ekonomi, sosial, budaya serta ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi persaingan global.
Melihat kenyataan yang ada, nampaknya program pemerintah malah menjadi momok yang menakutkan bagi pendidik maupun anak didik. Banyaknya Kecurangan yang dilakukan oleh peserta didik baik yang diketahui atau tidak oleh pengawas dalam pelaksanaan ujian nasional, merupakan indikasi bahwa program pemerintah terkait dengan hal ini adalah sia- sia belaka. Kalaupun berhasil itupun hanya dari pihak sekolah yang sudah siap akan ujian nasional dan benar-benar menerapkan disiplin dari aturan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Mengapa demikian ? Tentunya pihak guru sebagai pendidik yang pro menentang program pemerintah, telah sepakat kepada siswa- siswanya pada saat pra ujian nasional, akan melakukan kecurangan agar siswa didiknya lulus dengan sempurna. Hal ini merupakan penyebab seorang anak didik yaitu kurang giat dalam hal kegiatan belajar mengajar untuk menghadapi ujian nasional, karena gurunya sudah memberi jaminan akan kelulusanya melalui kecurangan yang akan dilakukan. Dengan demikian program pemerintah untuk meningkatkan kualiatas pendidikan dihambat oleh peserta didik itu sendiri. Akibatnya hal yang sia-sia juga terkait dengan besarnya biaya yang dikeluarkan, waktu serta proses teknis yang dijalankan oleh pemerintah.
Menanggapi hal ini, perlu adanya hubungan yang sinergi antara pemerintah terkait programnya dengan masyarakat khususnya kalangan peserta didik. Peserta didik harus menyadari bahwa apa yang ditetapkan pemerintah bukanlah untuk mendownkan mental anak didik, memundurkan atau menurunkan kualitas pendidikan, akan tetapi sebaliknya adalah untuk meningkatkan, mamajukan serta mengembangkan mutu pendidikan Di Indonesia. Kalupun itu terasa berat, tidak perlu dianggap sebagai suatu paksaan, namun merupakan suatu tangga bambu yang terbaik untuk membangun negeri tercinta ini.
Sementara pemerintah, harus responsif terhadap kemampuan masyarakat serta perlunya tinjauan ulang program yang telah dijalankan dari tahun- tahun sebelumnya. Perlu adanya pengawasan yang tegas dan valid baik kepada peserta ujian, guru maupun pengawas itu sendiri. selanjutnya, pemerintah harus belajar mencermati keadaan yang sesungguhnya terkait pengaruh kebijakan yang ditetapkan bagi masyarakat pada umumnya dan peserta didik pada khususnya. Pemerintah perlu juga memperhatikan hak-hak peserta ujian nasional, bahwa mereka sudah belajar selama tiga tahun, bagaimana kondisi kejiwaan siswa yang tidak lulus ujian nasional?, sehingga perlu dipertimbangkan dan dibenahi pula terkait program ujian susulan atau semacamnya. Dengan demikian program yang direncanakan oleh pemerintah sangat didukung oleh masyarakat (tidak bertepuk sebelah tangan alias sia- sia), yang diharapkan meningkatnya kualitas pendidikan dan tercapai secara seimbang.